Minggu, 21 Maret 2010

DAN AWAN PUN BERTASBIH…



21 Maret 2010…..
Dari kejauhan sudah terlihat jilbab-jilbab putih melambai di tengah lapangan merdeka kota lubuklinggau. Alunan nasyid-nasyid perjuangan mengalun, menghentakkan sanubari dengan rindu yang menggelora pada negeriku nun jauh di sana… Palestina…. Nuansa perjuangan nampak di setiap wajah saudara-saudaraku, hamasah yang luarbiasa terbias dari setiap gerak langkah mereka… Subhanallah….

Pukul 10.00 WIB, opening ceremonial dimulai, diawali dengan basmallah dan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, Surat Al-Anfal menambah haru suasana dan isakan tangis yang membuncah didalam dada. Dilanjutkan dengan orasi tentang Palestina yang semakin membangkitkan semangat juang para kader. Kembali diingatkan tentang perjuangan saudara-saudara kita di Palestina. Hari ini saja sudah 3 orang pemuda Palestina ditembak oleh tentara Israel, perlawanan yang tidak seimbang , batu vs senjata, menandakan ketakutan tentara Israel terhadap lemparan Allah melalui tangan anak-anak dan pemuda palestina ( QS: Al-Anfal; 17). Sungguh, ibu-ibu yang luar biasa, yang dari rahimnya melahirkan tentara-tentara Allah yang berjuang mempertahankan kehormatan Islam di bumi para nabi. Acara diakhiri dengan doa yang kembali menyesakkan dada dan deraian airmata, menyesali diri yang tidak bisa berbuat banyak untuk membantu mereka, yang masih disibukkan oleh kepentingan-kepentingan pribadi, Astaghfirullah…ampuni kami ya Rabb.

Pukul 11.00 WIB, Long March memutihkan sepanjang jalan Yos Sudarso. Subhanallah, Allahu Akbar.. pertolongan Allah begitu dekat … Cuaca kota linggau yang biasanya hujan atau sangat terik tidak terjadi selama berlangsungnya aksi penggalangan dana untuk Palestine. Awan menaungi, mendung, angin yang semilir , tidak panas apalagi hujan. Pujian kepada Allah atas nikmatnya ini. Tepat setelah long march selesai, cuaca langsung terik dan diikuti dengan hujan deras di sore harinya… Alhamdulillah….

Wajah yang memerah, keringat, airmata dan rasa lelah terlihat dari raut wajah saudara-saudaraku, namun semangat tetap membuncah di dada. Sedikit terobati dengan hasil yang mereka peroleh hari ini yang akan segera dikirim ke Palestina. Bahagianya melihat ghiroh juang saudara-saudaraku, semoga Allah membalas semua yang kalian lakukan pada hari ini dengan kebaikan yang berlipat, tentu saja dengan semua keikhlasan yang ada pada dirimu. Islam membutuhkan orang-orang seperti kalian, saudaraku. Tetap terus berjuang dimanapun engkau berada, tidak bisa di tepi jalur gaza, di tepi kota linggau pun kita tetap bisa berjuang, memperbaiki diri dan orang lain. Terimakasih untuk semuanya. Sesungguhnya ..aku mencintai kalian semua karena Allah..

Jumat, 19 Maret 2010

Linggau....Palestine.....

Dipusat kota linggau, 19 Maret ’10......

” Ibu....mana kemejaku...?! sekalian sama uangnya buat ongkos dan makan-makan sama temanku ntar malam......” daag... ibu....” Ali bergegas memakai helm dan gone with his motorcycle.

Ditepi jalur Gaza, 19 Maret ‘10…..

“ Ummi…mana kafiyehku….? Sekalian sama batu-batu untuk membeli surga buat ngerayain pertemuanku dengan Allah nanti malam…..” Assalamu’alaikum ummi...” Ali bergegas memakai kafiyeh dan gone with Bismillah, in the name of Allah.


Saudara-saudaraku seiman….

Sudah berpuluh-puluh tahun Yahudi laknatullah, Israel menyerang dan membunuh saudara-saudara kita di Palestina, bumi para nabi (Ardhul Nubuwah). Israel menguasai hampir seluruh Palestina, tepi barat dan jalur gaza, dataran tinggi bolan Siria juga Semenanjung Sinai Mesir. Bukan hanya serangan melalui udara, sekarang tentara Israel sudah merangsek, menyerang melalui jalur darat. Lebih dari ribuan warga Palestina tewas akibat kebrutalan Israel. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan wanita yang tidak berdosa. Sungguh sebuah tragedy yang sangat memilukan, sama seperti apa yang terjadi 20th yang lalu terhadap saudara kita di Bosnia yang diserang Serbia.

Saudaraku...

Rasulullah mengawali Isro’ dan Mi’rajnya dari Masjidil harom ke Masjidil Aqsho
( QS: Al-Isra’; 1). Itu artinya Masjid Al Aqsho adalah milik umat Islam diseluruh dunia.. Tempat suci, tempat ibadah kita yang seharusnya kita hormati dan kita jaga selama-lamanya. Tahukah engkau saudaraku...apa yang terjadi dengan Masjid Al aqsho sekarang???... Mereka... musuh Allah, yahudi laknatullah telah ”mengotori”nya... Mereka mabuk-mabukan didalam Masjid Al-Aqsho, Menonton film-film yang tidak bermoral, menulis pelecehan di dinding Al-Aqsho...mengusir bahkan menembaki orang-orang Palestina yang ingin sholat di dalamnya....Ya Allah, hanya kepadamu segala Kekuasaan!!

Saudaraku...

Tidakkah hati kita menjerit? menangis?marah? karena Rumah Allah dilecehkan?!! Dimanakah kita? saat mereka, saudara kita membutuhkan uluran tangan kita? Maaf... kita mungkin sedang asyik menikmati liburan kita...jalan-jalan... Kita mungkin sedang bahagia bersama dengan keluarga kita sambil menikmati lezatnya beraneka macam hidangan. Bersenda gurau sambil tertegun menatap ke layar kaca menikmati program televisi yang menghibur bahkan membuat kita menangis sedih.. Tahukah engkau? sekarang saudara-saudaramu di Palestina tidak bisa menikmati apa yang sedang engkau nikmati sekarang..

Di saat kita melewati hari-hari dengan sukacita, mereka melewatinya dengan dukacita

Disaat kita sedang bahagia bersama keluarga, mereka harus merelakan keluarganya pergi menghadapNYA

Disaat kita menikmati hidangan di meja makan, mereka harus berjuang menahan lapar karena tidak ada lagi yang bisa dimakan

Disaat kita diam dan hanya tertegun menyaksikan perjuangan mereka, saudara kita di Palestina sedang berlari menggapai Syahid


Saudaraku...

Melihat perjuangan mereka, membuat perasaan kita mengharu biru. Bukan wasiat harta yang mereka berikan , namun lebih lagi...wasiat mereka tentang indahnya Surga. Sungguh..mereka tidak pantas untuk kita... mereka lebih pantas mendapatkan bidadari surga... Lalu..kita pun bertekad dengan segenap kemampuan yang ada untuk membantu mereka. Mengeluarkan harta kita, memberikan sedikit waktu kita untuk melakukan penggalangan dana bagi mereka, InsyaAllah...Allah meridhoi-mu saudaraku...

Saudaraku...

Mari...bergabunglah bersama kami... sedikit uang yang engkau infaqkan untuk saudara kita di Palestina dapat mengurangi sedikit penderitaan mereka. One man one dollar, satu orang Rp 10.000 cukuplah saudaraku...bisa lebih Alhamdulillah...Allah yang akan membalas kebaikanmu dengan kelipatannya...

Biarlah....kita mungkin tidak bisa seperti Ali yang berada di Palestina... tapi kita juga jangan menjadi Ali dikota kita seperti di dialog awal tadi... kita harus menjadi Ali di kota Linggau dengan semangat Ali di Palestina... so what are you waiting for??....come on... do and give your best!!!

Kamis, 04 Maret 2010

Aku Tinggalkan bagi mereka Allah dan RasulNya...

Baginda Rasul menyerukan kepada kaum muslimin untuk menyumbangkan dana dan kendaraan yang mereka miliki dalam perang tabuk. Kemudian datanglah Abu Bakar membawa hartanya, lalu Rasulullah berkata” Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?Jawab abu Bakar: ” Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan RasulNya”

Sungguh…. Saat membaca kisah perang tabuk, aku merasa teramat sangat malu kepada Allah dan Rasulnya.. tanpa bisa terbendungkan butir-butir airmata mengalir deras dari mataku, amanah Allah ini. Terkenang kisah perjuangan para ikhwah diawal tahun ’99, pertama kali jamaah ini mendirikan wasilah dakwah. Para akhwat harus merelakan jilbab –jilbab putih mereka disulap menjadi bendera-bendera dan menjadi spanduk-spanduk. Mereka juga harus pulang malam hari karena melakukan direct selling, menyebar di beberapa daerah sekitar kampus dan rumah-rumah mereka dalam keadaan shaum.

Mengingat kembali suka dan duka para akhwat dalam proses belajar mereka menebar kebaikan. Mereka rela melewati hutan, menyusuri sungai kecil yang tingginya sepinggang dengan jarak hampir 1 km (yang karenanya mereka harus menyiapkan baju ganti) karena kalau melewati jalan darat jaraknya sangat jauh, hanya untuk mengisi pengajian di setiap minggunya. Terkadang timbul rasa takut pada diri mereka, jangan-jangan didalam hutan tersebut ada orang jahat yang akan menghadang mereka atau jangan-jangan didalam sungai ada ular yang akan mematuk mereka atau pecahan kaca yang akan melukai kaki mereka...tapi, tidak rela rasanya membiarkan ibu-ibu pengajian dan adik-adik TPA desa Gembala (sebuah desa yang hampir dikristenisasi-kan dan sudah berdiri sebuah gereja ) gelisah menunggu kehadiran mereka yang sering terlambat apalagi kalau sampai tidak datang. Bahagia rasanya bersama mereka mendiskusikan tentang Islam, Allah dan RasulNya...

Pertengahan November ’08 kembali mengingatkan ku tentang perjalanan dakwah ini. Kondisi seperti mereka mungkin tidak kita dapati lagi disini. Perjuangan kita semakin lama semakin membutuhkan tenaga, waktu dan dana. Kita mungkin tidak bisa lagi hanya mengandalkan niat semata tanpa dibarengi dengan kerja keras. Seperti kisah perang tabuk pada tahun ke-9 Hijri dibulan rajab, dipuncak musim panas dan ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Ujian dan cobaan berat yang membedakan siapa yang didalam hatinya ada nifaq dan siapa yang benar-benar beriman.

Penggalan pembicaraan antara Rasul dan sahabatnya Abu Bakar hendaknya menyadarkan kita akan pentingnya berinfaq dan bersedekah untuk kemenangan dakwah ini. Begitu banyak ayat di dalam al-Quran yang menganjurkan kita untuk memperbanyak memberikan infaq dan keutamaan orang-orang yang berinfaq dijalan Allah (diantaranya Qs 2: 265-274, 3:117,134). Terkadang kita merasa tidak bisa memberikan apa-apa untuk dakwah ini. Tidak punya cukup banyak uang untuk berinfaq padahal maaf, kita berani berhutang hanya untuk membeli selembar jilbab atau rela membeli semangkok bakso untuk mengisi perut kita (padahal alangkah nikmatnya kalau kita berpuasa). Kita tidak bisa menginfaqkan sedikit waktu kita dengan alasan kesibukan kita masing-masing apalagi kalau harus pulang larut malam. Kita tidak bisa menginfaqkan tenaga kita karena sudah habis terkuras dengan rutinitas-rutinitas harian kita. Akhirnya tidak ada apa-apa yang bisa kita berikan untuk dakwah ini, untuk Islam ini. Apalagi sampai harus menginfaqkan diri kita untuk Allah dan rasulNya... Astaghfirullah..

Seorang Abu Bakar hendaknya memberikan pelajaran bagi kita tentang pentingnya memperbanyak infaq kita. Beliau hanya meninggalkan Allah dan RasulNya untuk diri dan keluarganya. Beliau yang termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk surga rela memberikan harta dan segalanya untuk dakwah ini, lalu bagaimana dengan kita yang jelas-jelas belum tentu dijamin masuk surga?! Apakah kita tidak malu meminta segala kenikmatan surga sedang untuk memberikan sedikit saja harta, waktu dan tenaga kita di jalan Allah ini sangat berat kita rasakan?! Mungkin kita berpikir, wajar saja, tho Abu Abakar kan sahabat Nabi, hidup di Zaman Generasi Terbaik, sedang kita hidup di zaman yang penuh dengan kejahiliyahan. Sekarang renungkan pertanyaan ini. Apakah kita ingin hidup di zaman ini sebagai pribadi Usamah dan Fatimah atau kita ingin hidup di zamannya Rasul dan sahabat tetapi sebagai pribadi Abu Jahal atau Abdullah bin Ubay? Apakah Surga itu hanya milik Rasul dan Sahabatnya? Apakah kita tidak pantas mendapatkannya?.........

Ya ayyuhal ikhwah..., tidak usah ragu dan takut untuk memberikan apapun yang kita miliki untuk kemenangan dakwah ini. Tidak ada sesuatu kebaikan yang sia-sia ” hal jazaa ul ihsani ilal ihsan...” tentu saja dengan segenap KeIkhlasan yang ada. Kita mungkin belum bisa mengatakan aku tinggalkan bagi mereka (keluarga) Allah dan RasulNya tapi kita bisa mengatakan aku (akan belajar dan berusaha ) tinggalkan bagi mereka (keluarga) Allah dan RasulNya, InsyaAllah...Aamin

In memoriam my sisters fillah who kept fighting in Gembala village. Wherever you are, you always in my heart, with all love, laugh, eyes tear, hurt and blood when we went to that village. Being happy when they gave us vegetables and fruits. Still remember when we ran crossing the small river because someone followed us…. syh

Rabu, 03 Maret 2010

Surat cinta buat saudariku

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum wr wb dinda sholehah....

Alhamdulillah,segala puji dan syukur senantiasa kita persembahkan untuk sang Pemilik kita karena kita masih diizinkanNya untuk tinggal dibumi milikNya ini. Sholawat dan salam ke atas junjungan kita, kekasih pemilik kita, Rasulullah SAW.

..apakah kamu mengira bahwa kamu telah beriman padahal kamu belum diuji sebagaimana orang-orang terdahulu diuji dengan kesengsaraan dan penderitaan...?
...apakah layak bagimu Jannah, sedang begitu sedikit yang telah engkau berikan untuk Islam ini....?
...apakah pantas engkau menginginkan melihat wajah Allah dan RasulNya sedang sangat jarang engkau menemuinya dengan menundukkan kepala disetiap sholat dan tahajudmu....?

Dindaku sholehah....
Sungguh indah ikatan antara kita. Mbak senantiasa membayangkan wajah kalian dalam hari-hari mbak. Melafadzhkan nama-nama kalian ditiap munajat mbak , agar kebahagiaan selalu untuk kalian. Mbak mungkin bukan tipe orang yang bisa berbasa-basi. Mbak juga tidak bisa berkata-kata yang indah karena mbak memang bukan pujangga apalagi ahli pidato. Mbak adalah manusia biasa yang sedang berusaha belajar memperbaiki diri dan orang lain.
Tertatih-tatih mbak berusaha mengikatkan hati mbak dengan hati-hati kalian semua, agar semua duri disetiap langkah kita segera dapat kita singkirkan atau bahkan kita buang jauh dari jalanan supaya setiap orang bisa melewati jalan ini dengan leluasa.

Adik-adikku yang senantiasa mb sayangi ....
Subhanallah, Maha suci Allah yang telah mempertemukan kita di jalan Dakwah ini. Mbak tidak mau membayangkan seandainya mbak pergi dari jalan ini bahkan mungkin berpindah ke lain hati. Mbak merasa nyaman disini, bersama jamaah ini, saudara-saudara mbak yang lainnya terutama bersama kalian adik-adik mbak yang manis-manis...
Bagaimana mbak tidak bahagia bila mengingat kalian. Celotehan, pendapat, kreatifitas kalian telah membuat mbak ingin terus bersama. Tapi dik...adakah perasaan yang sama juga dengan kalian? Apakah kalian juga merindukan mbak? apakah kalian juga saling merindukan satu dengan yang lainnya? Apakah kita juga rindu pertemuan kita? Atau hanya sebatas formalitas yang datang dan perginya kita tiada makna....

Adikku.....
Maafkan mbak yang tidak bisa mengekspresikan perasaan sayang mbak pada kalian. Mbak kurang memperhatikan kalian satu persatu bahkan tanggal lahir kalian pun mungkin mbak tidak ingat.. Sekedar untuk bersilaturrahmi kerumah kalian mbak belum sempat, apalagi memberikan sesuatu untuk kalian. Tapi yakinlah dek, kalian menempati tempat terdalam dalam hati mbak....
Adik-adikku kesayangan Allah...

Mbak ingin kita tetap melangkah bersama menapaki jalan dakwah ini. Bergandengan bersama-sama... sehingga apabila ada yang terjatuh atau terpeleset maka yang lain segera menarik untuk kemudian melangkah lagi dan terus melangkah hingga tiba diujungnya. Diujung jalan ini berdiri bangunan Megah yang tiada bandingan nilainya. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Yang menjadi dambaan setiap insan, bertahtakan intan mutu manikam. Para malaikat menyambut dengan penuh senyuman.

Dek...
mbak rindu sekali dengan tempat itu...tidakkah kalian juga mengidam-idamkannya? tapi dek...tempat itu ternyata tidak semua orang bisa mendapatkannya. Tidaklah mudah dek...karena harganya tidak ada bandingannya.... maka kita diminta untuk terus berjuang dan berjuang tanpa henti...tidak bisa kita raih hanya dengan berpangku tangan, bertopang dagu apalagi sekedar ikut-ikutan. Karena istana itu akan tertulis nama kita masing-masing, InsyaAllah sebagaimana Bilal bin rabah. Sekarang pertanyaannya bagaimana kita berusaha mendaftarkan nama kita disana...walau harus dengan jiwa kita. Adik-adikku.... mari tetap melangkah dan terus melangkah.....bersama ......

Dinda....
maafkan mbak...karena disetiap pertemuan kita, mbak selalu mengingatkan kalian akan pentingnya Ruhiyah. Bahkan mungkin dipikiran kalian itu lagi,,,itu lagi,,,, Mbak selalu mengingatkan kalian pentingnya Tahajud, perbanyak tilawah, hafal Al ma’tsurat agar bisa kalian baca dimanapun kalian berada. Kalian juga mungkin bosan kalau mbak ingatkan untuk memperbanyak hafalan surat-surat Al-Quran. Mbak tidak ingin ketika nanti kalian pindah dan bertemu teman-teman baru hafalannya hanya An-Naba’....terusss....ndak kelar-kelar.... Dek, modal hidup kita didalam menapaki hari-hari kita didunia fana ini adalah kecintaan Allah SWT. Subhanallah.... betapa nikmatnya apabila kita bisa mendapatkan cintaNya. Kita akan melupakan dunia ini...

Duhai Cahaya hatiku..kecintaan Allah...
Mbak memahami perasaan kalian dengan semakin bertambahnya usia. Sabar ya dek...biarlah Allah yang memilihkan seorang Mujahid Dakwah untukmu kelak. Yang terbaik yang Allah pilihkan untukmu dek. Yang memilihmu karena kualitas Dienmu dan Dakwahmu. Dia yang akan memilihmu because of Allah, bukan karena kelebihan fisik yang mungkin tidak kita miliki. Seseorang itu entah siapa dan darimana,bahkan sering mbak sampaikan kepada kalian mungkin saja seseorang itu teramat sangat baik untukmu atau bahkan mungkin tengah berjuang menegakkan Dien ini di belahan lain dunia. Atau Allah telah menyiapkannya untuk kita di kehidupan hakiki kelak...Aamin. Begitu berharganya dia hingga Allah menangguhkannya untukmu hingga engkau berhasil menjadikan dirimu Sholehah ”seutuhnya”..MasyaAllah... indahnya untaian kata sholehah seutuhnya..membuat mbak sedih.. Menggenang airmata mbak membayangkannya. Ibadah-ibadah mbak terkadang tidak khusyuk, ada rasa tidak ikhlas, iri, riya’ dan berbagai lintasan-lintasan hati mewarnai hari-hari mbak.. Mbak tidak ingin apa yang mbak alami dirasakan oleh kalian. Engkau tau dek...mbak sangat.....menyayangi kalian.

Dinda.....
Andai saja masalah-masalah yang kalian rasakan bisa ditransfer, maka mbak berharap biarlah masalah-masalah kalian diberikan untuk mbak saja. Agar tidak ada lagi kesedihan dan airmata kalian adik-adikku..Agar senyum dan tawa kalian menghiasi dunia Islam ini. Tapi itu tidak mungkin ya dek.... Biarlah masalah-masalah yang Allah berikan kepada kita menjadi bagian dari tarbiyahNya bagi kita untuk menggapai IstanaNya.

Dek...
mbak tambah nelongso karena saat mbak membuat surat ini, ditemani alunan Nasyid ikhwan yang syairnya benar-benar menyentuh hati.. ” Laa tas ’alunii...( Jangan tanyakan aku..)...” Ya Junudda’wahi shobron, Inna ba’dal ’ushri yusron....”
Mari dek....kita bergandengan merengkuh cintaNya, menggapai RidhoNya, menyatukan hati-hati kita, merapatkan barisan untuk menegakkan AgamaNya. Bersama berdoa semoga Allah memperkenankan kita mendapatkan gelar ’Syahidah’....menjadi ’Ainul Mardhiyah.... Begitu banyak yang ingin mbak ungkapkan pada kalian dek... tapi biarlah Allah yang mengabulkan semua kebaikan untuk kalian adik-adikku...maafkan mbak karena sudah tidak sanggup lagi berkata-kata....

Wassalammu’alaikum, wr wb

Doaku...

Bismillahirrohmanirrohim

21 February 2010,

Hari ini hatiku campur aduk mengharu biru teringat guyonan saudariku….”mbak, yang datang ke acara Dauroh Samara harus bawa pasangannya..”. Spontan aku jawab, “jadi mbak gak boleh datang ya?...” . “iya, mbak,masih punya waktu tiga hari buat nyari pasangannya…he.he..bercanda mbak….”

Acara yang sama hari ini diadakan lagi, sudah 3 kali diadakan dalam kurun waktu enam tahun…dan sampai hari ini juga aku belum bisa mengikuti dauroh samarada karena belum ada yang menemaniku. Komentar para istri dan suami di facebook sedikit membuatku iri… betapa bahagianya mereka bisa saling berbagi kebahagiaan untuk kemudian bersama-sama meniti jalan dakwah ini hingga ke surganya.

Pertanyaan kapan dan kapan terus menggulir disetiap pertemuan dengan saudara-saudaraku…aku bukan tidak ingin, tapi memang belum ada yang datang kepadaku.. seseorang yang bisa menerimaku apa adanya…yang memilihku karena Dien ku saja bukan kelebihan fisik yang jelas-jelas tidak aku punyai… aku tidak pernah menyesali keadaanku…tidak akan pernah… aku juga tidak pernah iri dengan kelebihan fisik yang dimiliki saudari-saudariku…karena itu adalah hak mutlak yang telah Allah berikan untuk mereka. Aku memaknai Surat At-tien dengan sebenar-benarnya.. dan aku hanya bisa menjawab.. “ orangnya lagi berjihad di palestina..”

Aku menangis………sedihhhhhh…….

Tidak….bukan….aku tidak menangisi kesendirianku… Aku menangis karena membaca kenangan-kenangan indah anggota brigade Izzudin al-Qosaam menjemput syahidnya….Ayat al akrash, Wafa idris, Imad ‘Aqil dan aku ingin aku pun bagian dari mereka….

Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memberikan kehidupannya kepada zat Yang Maha Menghidupkan… sedangkan aku…masih tenggelam dalam lautan dosa…masih tenggelam dalam duniawi…masih sibuk dengan urusan-urusan pribadi…banyak makan, banyak tidur, membicarakan orang lain, sibuk menata hati yang tidak bisa tuju padaNya, tidak bisa menjaga mata ini dari melihat sesuatu yang dilarang..Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah…..

Teramat banyak nikmat yang tidak bisa aku syukuri, aku juga merampas ‘selendang Allah’, riya’ dihati, ujub di diri, iri dan beribu-ribu penyakit di hati ini….ada tabir kepalsuan di diri…betapa dhoifnya diri ini ya Allah….Aku iri ya Allah….kapan aku bisa seperti mereka? Saudara-saudaraku???.....bukan…bukan pada mereka yang telah mendapatkan pasangannya yang bisa diajak ke dauroh Samara (walau aku tahu itu bagian dari taat kepadaMu)…Aku iri pada mereka yang telah menjual dirinya dengan Mu, ya Allah…aku malu ya Rabb…

Kenapa aku tidak bisa seperti mereka??? Berkali-kali hamba terjerambab di jurang dosa…bisakah aku seperti akrash yang rela meninggalkan pakaian pengantinnya untuk menjemput panggilanMu ya Rabb…bisakah diri ini mendapat pendamping seperti Imad ‘aqil?? Aku mungkin sedang bermimpi….bagai pungguk merindukan bulan…. Tetapi bukankah kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin? Bukankah apa yang kita ucapkan adalah doa? ..aamin ya Allah…